Blogroll

February 18, 2012

Manajemen Kelas

A.    Pengertian, Tujuan dan Fungsi Manajemen Kelas
1.      Pengertian
Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata, yaitu pengelolaan dan kelas. Pengelolaan itu sendiri akar katanya adalah “kelola” ditambah awal “pe” dan akhiran “an”. Istilah lain dari pengelolaan adalah “manajemen”. Manajemen adalah kata aslinya dari bahasa Inggis, yaitu management, yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan.[1]
a.       Menurut Syaiful Bahri Djamarah dalam sebuah bukunya yang berjudul “Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif” bahwa, manajemen kelas adalah suatu upaya memperdayagunakan potensi kelas yang ada seoptimal mungkin untuk mendukung proses interaksi edukatif mencapai tujuan pembelajaran.
b.      Menurut Suharsimi Arikunto, manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan arti dari manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar dapat dicapai suatu kondisi yang optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan.[2]
2.      Tujuan
Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan. Secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi beracam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional dan intelektual dalam kelas.
Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa:
a.       Belajar dan bekerja
b.      Terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan suasana disiplin.
c.       Perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa.[3]
3.      Fungsi
Fungsi manajemen kelas dalam proses belajar mengajar sangat mendasar sekali karena kegiatan guru dalam mengelola kelas meliputi:
a.       Mengelola tindakan siswa dalam kelas
b.      Menciptakan iklim sosio emosional
c.       Mengelola proses kelompok
Secara umum fungsi manajemen kelas ditinjau dari analisis problem adalah:
a.       Memberi dan melengkapi fasilitas untuk segala macam tugas.
b.      Memelihara agar tugas-tugas itu dapat berjalan dengan lancar.

B.     Aspek-aspek Manajemen Kelas
Menurut Oemar Mark ada 7 aspek yang melalui fungsi berbeda dalam proses belajar mengajar, tetapi merupakan satu kesatuan bulat, yaitu:
1.      Aspek tujuan instruksional
2.      Aspek materi pelajaran
3.      Aspek metode dan strategi pembelajaran
4.      Aspek ketenagaan
5.      Aspek media instruksional
6.      Aspek penilaian
7.      Aspek penunjang fasilitas.

Menurut Lois V. Johnson dan May any mengemukakan aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas:
1.      Sifat-sifat kelas
2.      Kekuatan pendorong kekuatan kelas
3.      Memahami situasi kelas
4.      Mendiagnosis situasi kelas
5.      Bertindak selektif
6.      Bertindak kreatif
7.      Untuk memperbaiki kondisi kelas[4]

C.    Masalah-masalah dalam Manajemen Kelas
Tingkah laku anak didik bervariasi. Variasi perilaku anak merupakan permasalahan bagi guru dalam upaya pengelolaan kelas. Menurut Made Pi Darta, masalah-masalah yang berhubungan dengan perilaku anak didik adalah:
1.      Kurangnya kesatuan, misalnya dengan adanya kelompok-kelompok dan pertentangan jenis kelamin.
2.      Tidak ada standar perilaku dalam bekerja kelompok, misalnya ribut, bercakap-cakap, pergi kesana-kemari, dan sebagainya.
3.      Reaksi negatif terhadap anggota kelompok, misalnya bermusuhan dan merendahkan
4.      Kelas mentoleransi kekeliruan-kekeliruan temannya, menerima, dan mendorong perilaku anak didik yang keliru.
5.      Mudah mereaksi ke hal-hal negatif/terganggu.
6.      Moral rendah, permusuhan, agresif.
7.      Tidak mampu menyesuaikan dengan lingkungan yang berubah.[5]
Ada juga yang berpendapat bahwa, masalah manajemen dua kategori, yaitu:
1.      Masalah individual
2.      Masalah kelompok

D.    Tugas Guru dalam Manajemen Kelas
1.      Pengaturan atau Pengkondisian Fisik
Pengkondisian fisik meliputi:
a.       Ruang tempat berlangsungnya proses belajar mengajar
Hendaknya siswa bergerak leluasa pada saat melakukan aktivitas belajar.
b.      Pengaturan tempat duduk[6]
Bila tempat duduknya bagus, tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar, bundar, persegi empat panjang, sesuai dengan keadaan tubuh siswa, maka siswa akan dapat beajar dengan tenang.
c.       Pengaturan alat-alat pengajaran
Di antara alat-alat pengajaran di kelas yang harus diatur adalah:
1)      Perpustakaan kelas
2)      Alat-peraga media pengajaran
3)      Papan tulis, kapur tulis dan lain-lain
d.      Penataan keindahan  dan kebersihan kelas
e.       Ventilasi dan tata cahaya[7]
2.      Pengaturan Peserta Didik
Kegiatan interaksi edukatif dengan pendekatan kelompok mengehendaki peninjauan pada aspek perbedaan individual peserta didik.
a.       Postur tubuh anak didik yang tinggi sebaliknya ditempatkan di belakang.
b.      Anak didik yang mengalami gangguan penglihatan atau pendengaran sebaiknya ditempatkan di depan.
c.       Anak didik yang cerdassebaiknya digabung dengan anak didik yang kurang cerdas.
d.      Anak didik yang pandai bicara dikelompokkan dengan anak didik pendiam.
e.       Anak didik yang gemar membuat keributan dan menganggu temannya lebih baik dipisah dan tidak terlepas dari pengawasan guru.[8]

E.     Prinsip-prinsip Manajemen Kelas
Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas, prinsip-prinsip pengelolaan kelas dapat digunakan. Maka penting bagi guru untuk mengetahui dan menguasai prinsip-prinsip pengelolaan kelas sebagai berikut:
  1. Hangat dan Antusias
  2. Tantangan
  3. Bervariasi
  4. Keluwesan
  5. Penekanan pada hal-hal yang positif
  6. penanaman disiplin diri.[9]

F.     Pendidikan dalam Manajemen Kelas
Keharmonisan hubungan guru dengan peserta didik, tingginya kerjasama diantara peserta didik tersimpul dalam bentuk interaksi. Lahirnya interaksi yang optimal tentu saja bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka manajemen kelas. Berbagai pendekatan tersebut adalah:
  1. Pendekatan Kekuasaan
Peranan guru adalah menciptakan dan memepertahankan situasi disiplin dalam kelas, sehingga di dalamnya terdapat kekuasaan dalam norma yang harus ditaati oleh anggota kels.
  1. Pendekatan Ancaman
Dalam mengontrol tingkah laku anak didik dilakukan dengan memberikan ancaman.
  1. Pendekatan Kebebasan
Pengelolaan diartikan proses membantu anak didik agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan saja dan di mana saja.
  1. Pendekatan Resep
Pendekatan ini dilakukan dengan memberi daftar
  1. Pendekatan Pengajaran
  2. Pendekatan Perubahan tingkah laku
Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku anak didik yang baik.
  1. Pendekatan iklim sosio emosional
Pendekatan ini berdasarkan suasana peranaan dan suasana sosial di dalam kelas sebagai sekelompok individu cenderung pada pandangan psikologi klinis dan konseling (penyuluhan).
  1. Pendekatan  proses kelompok
Pendekatan ini didasarkan pada psikologi sosial dan dinamika kelompok.
  1. Ecletic Approach
  2. Pendekatan umum terhadap disiplin.[10]

G.    Manajemen Kelas yang Efektif
Mempersiapkan manajemen kelas yang efektif itu dapat diorganisasikan diseputar 3 topik utama.
1.      Menetapkan aturan dan prosedur
Kelas membutuhkan aturan dan prosedur untuk mengatur kegiatan penting. Aturan adalah pernyataan yang menyebutkan apa yang diharapkan untuk dilakukan. Sedangkan prosedur adalah cara untuk menyelesaikan pekerjaan atau kegiatan lainnya. Hal ini sering dibuat dalam bentuk tertulis. Pengelolaan kelas yang efektif menghabiskan cukup banyak waktu untuk mengajarkan berbagai prosedur kepada siswa.

2.      Menjaga aturan dan prosedur
Pengelolaan kelas yang efektif pada umumnya hanya menetapkan beberapa aturan prosedur saja, mengajarkan dengan cemat kepada siswa, dan menjadikannya sesuatu yang rutin dengan menggunakannya secara konsisten.
3.      Menjaga konsistensi
Manajemen kelas yang efektif dan konsisten dalam menegakkan aturan dan menetapkan prosedur, bila tidak ada aturan serta prosedur akan buyar dengan cepat.[11]

H.    Komponen-Komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas
Komponen-komponen keterampilan pengelolaan kelas ini pada umumnya dibagi menjadi:
1.      Keterampilan ini berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat prevetif)
Keterampilan ini berhubungan dengan kompetensi guru dalam mengambil inisiatif dan mengedalikan pelajaran serta aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan keterampilan.
a.    Sikap tanggap
b.    Membagi perhatian
c.    Pemusatan perhatian kelompok
2.      Keterampailan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal
Keterampilan ini berkaitan dengan tanggapan guru terhadap gangguan anak didik yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal.[12]


PENUTUP

Manajemen kelas yang baik akan menciptakan suasana belajar mengajar yang efektif, dan efisien. Sehingga proses belajar-mengajar sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Iklim belajar yang kondusif juga merupakan tulang punggung dan factor pendorong yang dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi proses pembelajaran, sebeliknya iklim belajar yang kurang menyenangkan akan menimbulkan kejenuhan dan rasa bosan. Untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif seorang guru diharapkan mempunyai kemampuan dalam mengelola .kelas

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.

Djaramah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka Cipta.

Mustakim, Zaenal. 2009. Strategi dan Metode Pembelajaran. Pekalongan: STAIn Press.

Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Gur Profesional. Bandung PT. Remaja Rosdakarya.


[1] Syaiful Bahri Djaramah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Edisi Revisi), (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 175.
[2] Zaenal Mustakim, Strategi dan Metode Pembelajaran, (Pekalongan: STAIn Press, 2009), h. 28-29.
[3] Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain, op.cit., h. 178.
[4] Zaenal Mustakim, op.cit., h. 30-31.
[5] Syaifl Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), h. 173
[6] Zaenal Mustakim, op.cit., h. 32-33.
[7] Syaiful Bahri Djamarah, op.cit., h. 204-206.
[8] Zaenal Musrakim, op.cit, h. 35.
[9] Moh. Uzer Usman, Menjadi Gur Profesional, (Bandung PT. Remaja Rosdakarya, 2001), h. 97-98.
[10] Zaenal Mustakim, op.cit., h. 38-39.
[11] Ibid, h. 43-44.
[12] Syaiful Bahri Djamarah, op.cit. h. 186-193.

0 comments:

Post a Comment