Blogroll

February 19, 2012

Pendekatan Filsafat Dalam Kajian Islam

A.    Pengertian Filsafat Islam
Istilah filsafat dapat ditinjau dari dua segi, yakni:
a.       Segi Semantik: perkataan filsafat berasal dari bahasa Arab dan bahasa Yunani, Philosophia yang berarti philos = cinta, suka dan sophia = pengetahuan, hikmah. Jadi,  Philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut philosopher, dalam bahasa Arab failsuf.
b.      Segi Praktis: filsafat berarti alam pikiran, atau alam berpikir. Berfilsafat artinya berpikir. Namun, tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh.
Menurut mustofa Abdur Razik pemakaian kata filsafat di kalangan umat Islam adalah kata hikmah, sehingga kata hakim ditempatkan pada kata failasuf atau orang hukum Al-Islam (hakim-hakim Islam) sama dengan falassifatul Islam (failasuf-failasuf Islam)
Al-Farabi berkata: failsuf adalah orang yang menjadikan seluruh kesungguhan dari kehidupannya dan seluruh maksud dari umurnya mencari hikmah yaitu mema’rifati kebaikan.
Ibnu Sina mengatakan hikmah adalah mencari kesempurnaan diri manusia dengan dapat menggambarkan segala urusan dan membenarkan segala hakikat baik yang bersifat teori maupun praktik menurut kadar kemampuan manusia.
Dengan demikian hikmah yang diitentikkan dengan filsafat ialah ilmu yang membahas tentang hakikat sesuatu, baik yang bersifat teoritis atau yang bersifat praktis yakni pengetahuan yang harus diwujudkan dengan amal baik.
Sampailah kita pada pengertian filsafat Islam yang merupakan gabungan dari filsafat dan Islam. Menurut Mustofa Abdul Razik, filsafat Islam ialah filsafat yang tumbuh di negeri Islam dan di bawah naungan negara Islam, tanpa memandang agama dan bahasa-bahasa pemiliknya. Pengertian ini diperkuat oleh Prof. Tara Chand, bahwa orang-orang Nasrani dan Yahudi yang talah menulis kitab-kitab filsafat yang bersifat kritis atau terpengaruh oleh Islam sebaiknya dimasukkan ke dalam filsafat Islam.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa filsafat Islam adalah suatu ilmu yang dicelup ajaran Islam dalam membahas hakikat kebenaran segala sesuatu.

B.     Obyek Filsafat Islam
Telah disebtukan bahwa obyek filsafat adalah menelaah hakikat tentang Tuhan, tentang manusia dan tentang segala realitas yang nampak di hadapan manusia. Ada beberapa persoalan yang biasa dikedepankan dalam mencari obyek filsafat meskipun akhirnya tidak akan lepas dari ketiga hal itu, yaitu:
1.      Dari apakah benda-benda dapat berubah menjadi lainnya seperti perubahan oksigen dan hidrogen menjadi air?
2.      Aoakah jaman itu yang menjadi ukurab gerakan dan ukuran wujud semua perkara.
3.      Apakah bedanya makhluk hidup dengan makhluk yang tidak hidup?
4.      Apa jiwa itu? Jika jiwa itu ada, apakah jiwa manusia itu abadi atau musnah?
5.      Apakah ciri-ciri khas makhluk hidup itu?
Dari sini kita bisa membuat obyek pembahasan lagi, yaitu pengetahuan atau pengenalan itu sendiri, cara-caranya dan syarat-syarat kebenaran atau salahnya dan dari sini maka keluarlah ilmu logika (mantiq) yang tidak ada kemiripannya dengan ilmu-ilmu positif. Kemudian kita melihat kepada akhlak dan apa yang seharusnya diperbuat oleh perorangan, keluarga dan masyarakat ygn berbeda penertian tentang gejala-gejala kemasyarakatan dan hubungannya, tanpa meneliti yang seharusnya terjadi.
Dari uraian di atas, maka filsafat sebagai ilmu yang mengungkapkan tentang wujud-wujud melalui sebab-sebab yang jauh, yaitu pengetahuan yang yakin yang sampai kepada munculnya suatu sebab. Ilmu terhadap wujud-wujud itu adalah bersifat keseluruhan, bukan terperinci, karena pengetahuan secara terperinci menjadi lapangan ilmu-ilmu khusus. Oleh karena itu sifatnya keseluruhan, maka filsafat hanya membicarakan benda pada umumnya atau pada kehidupan umumnya.
Dengan demikian filsafat mencakup seluruh benda dan semua yang hidup yakni pengeahuan terhadap sebab-sebab yang jauh yang tidak perlu lagi dicari sesudahnya. Filsafat manusia berusaha untuk menafsirkan hidup itu sendiri yang menjadi sebab pokok bagi partikel-partikel itu beserta fungsi-fungsinya. Cakupan filsafat Islam tidak jauh beda dari obyek filsafat ini hanya dalam proses pencarian itu filsafat Islam telah diwarnai oleh nilai-nilai yang Islami. Kebebasan pola pikirannya pun dugantungkan pada nilai etis yaitu sebuah ketergantungan yang didasarkan pada kebenaran ajaran ialah Islam.

C.    Tujuan, Fungsi dan Manfaat Filsafat Islam
Menurut Harold H. Titus, filsafat adalah suatu usaha untuk memahami alam semesta, maknanya dan nilainya, apabila tujuan ilmu adalah kontrol dan tujuan seni adalah kreativitas, kesempurnaan bentuk keindahan komunikasi dan ekspresi, maka tujuan filsafat adalah pengertian dan kebijaksanaan.
Radhakrishan dalam bukunya, History of Philosophy  menyebutkan: tugas filsafat bukanlah sekedar mencerminkan semangat di mas ketika kita hidup, melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat ialah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk menolong dunia baru, mencetak manusia-manusia yang menjadikan penggolongan-penggolongan berdasarkan nation, ras, dan keyakinan keagamaan mengabdi kepada cinta mulia kemanusiaan. Filsafat tidak ada artinya sama sekali apabila tidak universal, baik dalam ruang lingkupnya maupun dalam semangatnya.
Berbeda dengan pendapat Soemandi Soerjabrata, yaitu mempelajri filsafat adalah untk mempertajam pikiran, maka H. De Vos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya cukup diketahui, tetapi harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup agar dapat manjadi manusia yang baik dan bahagia.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalam mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisika (hakikat keaslian).


D.    Hubungan Filsafat Islam dengan Ilmu-ilmu Islam
Keunggulan khusus bagi filsafat Islam dalam masalah pembagian cabang-cabangnya adalah mencakup ilmu kedokteran, biologi, kimia, musik ataupun falak yang semuanya menjadi cabang filsafat Islam. Sehingga hal ini menjadi nilai lebih bagi filsafat Islam. Dengan demikian filsafat Islam secara khusus memisahkan diri sebagai ilmu yang mandiri.
Pemikiran Islam mempunyai ciri khas tersendiri dibanding dengan filsafat Aristoteles, seperti halnya pemikiran Islam pada lima kalam dan tasawuf. Demikian pula pada pokok-pokok hukum Islam (Tasyri’) dan ushul fiqih juga terfapat beberapa uraian yang logis dan sistematis dan mengandung segi kefilsafatan. Syekh Mustofa Abdu Raziq adalah orang yang pertama mengusulkan ilmu fiqih menjadi bagian dari filsafat. Berikut ini ada beberapa hubungan filsafat Islam dengan ilmutasawuf, ilmu fiqih dan ilmu pengetahuan.
1.      Filsafat Islam dengan Ilmu Kalam
Problem yang ada terhadap filsafat Islam, apakah identik dengan ilmu kalam? Ataukah sebagai ilmu yang berdiri sendiri? Apakah ilmu kalam itu sebagai cabang dari filsafat?
Ada beberapa pendapat para ahli yang mencoba menjawab pertanyaan di atas antara laib:
a.       Prof. Fuad Al-Ahwani
Ia mengetahui bahwa sekolah pada abad ke 6 H, filsafat telah bercampu dengan ilmu kalam, sampai yang terakhir ini telah menelan filsafat sedemikian rupa dan memasukkannya di dalam kitab-kitabnya. Sehingga kitab-kitab tauhid yang membahas ilmu kalam didahului dengan pendahuluan mengenai logika Aristoteles dengan mengikuti cara para filosuf.
b.      Prof. Tara Chana
Dia mengemukakan bahwa istilah filsafat Islam adalah untuk arti dari ilmu kalam. Ia lebih lanjut menyatakan filsafat itu telah lahir dari kebutuhan Islam dan perdebatan keagamaan dan pada dasarnya mementingkan pengukuhan landasan aqidah atau mencarikan dasar filosufisnya, atau untuk membangun pemikiran-prmikiran theologi keagamaan
2.      Filsafat dan Tasawuf
Antara filsafat dan tasawuf mempunyai perbedaan yang sangat besar, keduanya dalam hal pembahasan, berbeda pada metode dan obyeknya. Apabila berbicara filsafat berarti dalam memandang harus dengan akal, dan menggunakan metode argumentasi dan logika. Akan tetapi tasawuf dengan jalan mujahadah (pengekangan hawa nafsu) serta musyahadah (pandangan batin). Di samping itu tasawuf dalam berbicara memakai bahasa intuisi dan pengalaman batin. Dan menurut Dr. Fuad Al-Ahwani, bahwa para filosuf sebagai pemilik-pemilik argumentasi, sedangkan para sufi adalah pemilik-pemilik intuisi dan perasaan batin.
Lebih lanjut dapat diperjelas di sini, bahwa filsafat mempunyai obyek bahasan tentang alam dengan segala isinya, manusia dan perilaku, sikapnya serta mengenal eksistensi Allah SWT. Dan tasawuf sebagai obyeknya adalah perkenalan dengan Allah SWT, lewat ibadah syariat, ilham dan intuisi.
3.      Filsafat dan Fiqih
Fiqih sebagai ilmu yang spesifik di dalam ilmu ilmu agama. Sehingga dasar fikih adalah ajaran agama. Sehingga fikih sebagai kajian ilmu berbeda dengan filsuf. Namun Imam Syafi’i dalam kitabnya Ar-Risalah menjelaskan bahwa antara fiqh dan ushul fiqh adalah lain permasalahannya. Di mana ushul fiqh adalah kitab yang ilmiah dengan pembahasan yang sistematis susunannya dalam disiplin ilmu. Juga terlihat adanya pemikiran filosofis dalam Islam yang dicerminkan adanya perhatian dalam mengukur suatu hal yang mendetail dan partial menurut kaidah-kaidah umum dan dengan tidak mengabarkan aspek fiqhnya yakni menarik hukum-hukum syariat secara mendetail dengan alasan-alasan yang terperinci.

KESIMPULAN

Tujuan dari filsafat dalam kajian Islam ini adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisika (hakikat keaslian).


DAFTAR PUSTAKA

Mustofa A. 1997. Filsafat Islam. Bandng: CV. Pustaka Setia
Nasution Harun. 1973. Falsafat dan Mistisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang



0 comments:

Post a Comment