Blogroll

February 19, 2012

Peranan Guru dan Perilaku Murid

A.    PERANAN GURU
Banyak peranan yang diperlukan dari guru sebagai pendidik dinataranya peranan yang diharapkan dari guru itu seperti disebutkan dibawh ini:
1.      Korektor
Sebagai korektor guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan buruk, keduanya harus betul-betul dipahami oleh seorang guru dalam kehidupannya di masyarakat. Koreksi yang harus guru lakukan terhadap sikap dan sifat anak didik tidak hanya di sekolah, tetapi di luar sekolah pun harus dilakukan. Sebab tidak jarang diluar sekolah anak didik justru lebih banyak melakukan pelanggaran terhadap norma-norma susila, moral, sosial dan agama yang hidup di masyarakat.
2.      Inspirator
Sebagai inspirator guru harus dapat memberikan ilham atau petunjuk bagi kemajuan belajar anak didik. Petunjuk itu tidak harus dengan teori-teori belajar namun dapat juga melalui pengalaman.
3.      Informator
Sebagai informator guru harus bisa memberikan informasi tentang perkembangan ilmu teknologi, karena informasi yang baik dan efektif masih diperlukan dari seorang guru.
4.      Organisator
Sebagai organisator sisi lain dari peranan yang diperlukan dari guru selain mengajar, guru juga memilki pengelolaan kegiatan akademik, misalnya dalam menyusun tata tertib sekolah, menyusun kalender akademik.
5.      Motivator
Sebagai motivator, guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah dan aktif belajar.
6.      Inisiator
Guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran.
7.      Fasilitator
Guru hendaknya dapat menyediakan fasilitator yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar anak didik.
8.      Pembimbing
Peranan ini harus dipentingkan, karena kehadiran guru di seklah adalah untuk membimbing anak didik menjadi manusia dewasa, susila yang cakap.
9.      Demonstrator
Tidak semua pelajaran dapat anak didik pahami melihat intelegensia yang anak miliki, guru harus berusaha membantunya.
10.  Pengelola Kelas
Guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik, karena kelas adalah tempat berhimpun semua anak didik dalam rangka menerima bahan pelajaran dari guru.
11.  Mediator
Guru hendaknya memilki pengetahuan dan pengalaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya, baik media non material maupun materiil.
12.  Supervisor
Guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran.
13.  Evaluator
Guru dituntut untuk menjadi seorang evaluator yang baik dan jujur, dengan memberikan penilaian yang menyentuh aspek ekstrinsik dan intrinsik[1]

B.     HUBUNGAN GURU DENGAN MURID YANG BAIK
Hubungan guru – murid dikatakan baik apabila hubungan itu memilki sifat sebagai  berikut:
1.      Keterbukaan, sehingga baik guru maupun murid saling bersikap jujur dan membuka diri satu sama lain;
2.      Tanggap bilaman seseorang tahu bahwa dia dinilai oleh orang lain;
3.      Saling ketergantungan antara satu dengan yang lain;
4.      Kebebasan yang memperbolehkan setiap orang tumbuh dan mengembangkan keunikannya, kreatifitasnya dan kepribadiannya;
5.      Saling memenuhi kebutuhan, sehingga tidak ada kebutuhan satu orang pun yang tidak terpenuhi.[2]

C.     TIPE HUBUNGAN GURU – MURID
Hubungan guru dan murid banyak ragamnya bergantung pada guru, murid serta situasi yang dihadapi. Tiap guru mempunyai hubungan yang berbeda menurut pribadi dan situasi yang dihadapi. Proses pendidikan banyak terjadi dalam interaksi sosial antara guru dan murid. Sifat interaksi ini banyak tergantung pada tindakan guru yang ditentukan antara lain oleh tipe peranan guru diantaranya sebagai berikut:
1.      Tipe peranan guru yang dominan atau otoriter
Dimana guru selalu mendominasi atau selalu menguasai serta menentukan dan mengatur kelakuan murid dan menginginkan konformitas dalam kelakuan mereka. Guru ini sering mencampuri apa yang dilakukan oleh murid sehingga sering menimbulkan konflik antara guru dengan murid. Dari hasil penelitian guru yang otoriter, suka mencela. Marah dan sering menyindir . biasanya tidak disukai oleh peserta didiknya. Biasan murid atau peserta didik juga tidak akan menyukai pelajaran yang diampu oleh guru tersebut yang pada akhirnya akan mempengaruhi prestasi belajar siswa itu sendiri.
2.      Tipe peranan guru yang Integratif atau Demokratif
Pada tipe ini guru sekedar memberikan saran kemudian anak didik dapat menentukan sendiri menurut kemampuan dan cara masing-masing. Murid diajak berunding untuk merencanakan pelajaran dalam mecapai tujuan yang ditentukan bersama. Guru yang bersifat demokratif cocok untuk urikulum yang “student – centered”. Sikap serupa ini lebih mengembangkan kepribadian anak menjadi orang yang dapat berdiri sendiri, dapat memilih sendiri dengan tanggung jawab. Dalam suatu penelitian ternyata bahwa pertambahan pengetahuan murid dalam pelajaran rendah korelasinya dengan taraf disukainya guru oleh murid, ternyata gur yang demokratif bukan guru yang efektif dalam menyampaikan ilmu, walaupun penelitian ini belum dapat dipercayai sepenuhnya, namun dapat memberi petunjuk bahwa guru yang demokratif tidak sebaik guru yang otoriter dalam menambah pengetahuan murid.

D.    KELAKUAN MURID BERHUBUNGAN DENGAN KELAKUAN GURU
Kelakuan anak di kelas tidak semuanya diakibatkan oleh tindakan guru. Kelakuan yang sama mungkin berbeda pengaruhnya terhadap murid dan tidak selalu dipastikan bahwa kelakuan anak didik ada hubungannya dengan kelakuan guru, tetapi pada umumnya perbuatan anak sebagai reaksi terhadap kelakuan guru yang dapat bersifat menurut atau tidak menurut, menyesuaikan diri dengan perintah guru atau menentang.
1.      Kelakuan Guru yang otoriter sifatnya sebagai berikut:
a.       Selalu mendominasi sehingga menimbulkan konflik;
b.      Selalu mendominasi tanpa menimbulkan konflik;
c.       Selalu mendominasi dengan mengakibatkan adanya kerjasama dikalangan murid.
Dari ketiga sifatnya, guru membuat keputusan tanpa merundingkannya dengan murid dan tanpa partisipasi murid. Dan sangat tampak dalam kelas kelakuan anak dengan bermain-main sesutau dengan diam-diam, bercakap-cakap dengan anak lain. Dengan reaksi tersebut maka murid kurang berani untuk mengekplor minat dan bakatnya, serta murid sukar diajak bekerjasama dalam proses belajar mengajar.
Tipe otoriter guru tidak selalu berhasil untuk mencapai kepatuhan sepenuhnya, bahkan dapat menimbulkan konflik, selain itu sikap otoriter dapat ditiru oleh murid terhadap murid yang lemah dengan menunjukkan kekuasaannya.
2.      Kelakuan Guru yang demokrasi, dalam sifatnya sebagai berikut:
a.       Selalu demokrasi tanpa bukti adanya kerjasama;
b.      Selalu demokrasi dengan adanya tanda kerjasama.
Dari kedua sifatnya, guru mempertimbangkan keinginan dan minat murid, bahkan mengajak murid turut serta mengambil keputusan. Dengan kelakuan guru yang demokrasi rekasi anak didik akan menunjukkan kerjasama, turut memberi sumbangan pikiran dengan demikian dapat memperlancar pelajaran karena anak-anak didik lebih berani dan bersedia untuk mengemukakan pendapatnya dengan spontan dan suka bekerjasama baik kerjasama terhadap guru maupun terhadap murid yang lainnya.


[1] Saiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik, Jakarta, Rineka Cipta, 2008, h. 43 - 48
[2] Thomas Gordon, Guru yang Efektif, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1990, h. 26

0 comments:

Post a Comment