Blogroll

February 07, 2012

Ontologi

a.      Hakikat Ontologi
Secara etimologi ontologi berasal dari bahasa Yunani “ethos” dan “logos” ethos adalah kata kerja dari einai artinya yang sedang berada, sedangkan logos berarti ilmu. Dengan demikian secara bahasa ontologi dapat diartikan ilmu yang membicarakan segala sesuatu yang ada. Atau dengan kata lain ontologi adalah bagian cabang filsafat yang membahas tentang hakikat hidup.[1] Ontologi berarti ilmu hakikat yang menyelidiki alam nyata dan bagaimana keadaan yang sebenarnya: apakah hakikat di balik alam nyata ini. Ontologi menyelidiki hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata yang sangat terbatas bagi pancaindra kita. Bagaimana realita yang ada ini, apakah materi saja, apakah wujud sesuatu ini bersifat tetap, kekal tanpa perubahan, apakah realita berbentuk satu unsur, dua unsur, ataukah terdiri dari unsur yang banyak.[2]
Dapat ditarik suatu alur bahwa ontologi itu sebagai salah satu cabang dari filsafat yang ingin mencoba menemukan hakikat dari suatu yang ada, realitas merupakan bagian dari yang ada itu sendiri. Hakikat dari realitas adalah segala sesuatu yang mengitari kita. Sisi dari realitas merupakan esensi dan hakikat esensi adalah eksistensinya, yang akan berhenti setelah adanya ketetapan atau jawaban yang benar. Dapat dipahami bahwa hakikat ontolog adalah memecahkan permasalahan realitas secara tepat, karena konsepsi kita tentang realitas mengontrol pertanyaan kita tentang dunia ini. Dan tanpa adanya pertanyaan, kita jelas tidak akan memperoleh jawaban darimana kita nantinya akan membina kumpulan ilmu pengetahuan yang kita miliki dan menetapkan disiplin tentang masalah – masalah pokoknya.

b.      Scope Kajian Ontologi
Perhatian kita dalam pendidikan yang mengandung masalah – masalah filosof utama adalah ontologi yang merupakan studi tentang realitas yang tertinggi. Cakupan kajian ontologi meliputi yang ada (being) dan yang nyata (realitas) maupun esensi dan eksistensi. Hal ini karena realitas (yang nyata) merupakan bagian yang ada. Objek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan.[3] Berikut ini akan dijelaskan scope kajian ontologi antara lain;
a.       Yang ada (being)
Apakah hakikat sesuatu yang ada itu diciptakan, atau ada dengan sendirinya. Jika diciptakan siapa yang menciptakan dan bagaimana proses berlangsungnya penciptaan tersebut dan jika ada dengan sendirinya apakah mungkin?
Dalam pengalaman hidup kita sehari – hari, tidak ada yang ada dengan sendirinya dan tidak ada yang ada secara kebetulan. Proses yang berjalan adalah mekanisme hukum alalm. Oleh sebab itu, tidak ada yang ada dan yang mengadakan dalam satu ada. Dengan kata lain tidak ada pencipta dan ciptaan, sebab dan akibat menyatu dalam ada yang satu dan berada dalam ruang dan waktu yang sama.
Pada prinsipnya ada itu ada dua, ada menciptakan dan ada yang diciptakan, ada yang menyebabkan dan ada yang diakibatkan.
b.      Yang nyata (Realitas)
Masalah realitas dapat dipahami dengan pernyataan bahwa nyata dan ada mempunyai pengertian serupa. Kata ada kita pandang sebagai keragaman yang spesifik dan prosedur ontologi yang pertama digunakan untuk membedakan apa yang sebenarnya nyata atau ada eksistensinya dari apa yang hanya nampaknya saja nyata. Sebagai contoh berikut: Sebuah tongkat itu lurus, menurut perasaan dan penglihatan kita, sebelum kita ceburkan ke dalam air. Tetapi setelah di dalam air menurut perasaan dan penglihatan kita ternyata tongkat tersebut bengkok. Kita ambil lagi tongkat tersebut, maka ternyata keadaan tongkat tersebut terlihat seperti biasa yaitu lurus.

c.       Esensi dan Eksistensi
Dalam setiap yang ada, baik yang nyata maupun yang tidak nyata selalu ada dua sisi di dalamnya, yaitu sisi esensi dan sisi eksistensi. Bagi yang ghaib, sisi yang nampak adalah eksistensi, sedangkan bagi yang ada yang konkret, sisi yang nampak bisa kedua – duanya, yaitu esensi dan eksistensi. Dalam kehidupan manusia, yang terpenting adalah eksistensinya, seperti kayu akan lebih bermakna ketika sebuah kayu mempunyai eksistensinya sebagai meja kursi. Eksistensi berada pada hubungan – hubungan yang bersifat konkret, baik vertikal maupun horizontal dan bersifat aktual dan eksistensi juga berorientasi pada masa kini dan masa depan, sedangkan esensi adalah kemasalaluan.

c.       Implikasi Ontologi dalam dunia Pendidikan
Implikasi ontologi secara nyata dapat dibuktikan di dunia pendidikan. Pada sebagian SMA, mata pelajaran yang berpokok  pangkal pada idea, seperti kesusastran umpamanya, masih dianggap oleh sebagian masyarakat mempunyai derajat lebih tinggi. Seluruh kurikulum berisi macam – macam mata pelajaran yang telah diatur dan ditettapkan secara hierarki. Di SMA terdapat pula mata pelajaran yang isinya mengandung idea dan konsep – konsep. Pada tingkatan Universitas, pandangan kaum idealis ini lebih jelas lagi penerapannya. Pengetahuan seni budaya adalah bidang studi yang mempersiapkan bahan pemikiran dan kebebasan berpikir. Bidang studi yang dianggap penting adalah mata kuliah yang bersifat teoritis, abstrak dan simbolis.
Selain itu pandangan ontologi ini secara praktis akan menjadi masalah utama pendidikan. Sebab anak bergaul dengan lingkungannya dan mempunyai dorongan yang kuat untuk mengerti sesuatu. Anak – anak di sekolah atau masyarakat akan menghadapi realita, objek pengalaman, benda mati, sub human, dan human. Bagaimana asas – asas pandangan religius tentang adanya makhluk – makhluk yang berakhir dengan kematian. Bagaimana kehidupan dan kematian dapat dimengerti.
Dengan demikian anak – anak harus mendapat bimbimgan agar dapat memahami realita dunia yang nyata ini, sehingga diharapkan anak – anak mampu mengerti perubahan – perubahan didalam lingkungan hidupnya tentang nilai – nilai moral dan hukum. Daya pikir yang kritis akan sangat membantu pengertian tersebut. Kewajiban pendidik kaitannya dengan ontologis ini ialah membina daya pikir yang tinggi dan kritis pada anak.[4]
Implikasi pandangan ontologi terhadap pendidikan adalah bahwa dunia pengalaman manusia yang harus memperkaya kepribadian bukanlah hanya alam raya dan isinya dalam arti sebagai pengalaman sehari – hari. Melainkan sebagai sesuatu yang tak terbatas realitas fisis, spiritual, yang tetap dan yang berubah – ubah. Juga hukum dan sistem kesemestaan yang melahirkan perwujudan harmoni dalam alam semesta, termasuk hukum dan tertib yang menentukan kehidupan manusia.[5]

ANALISIS
Analisis yang dapat diambil dalam materi di atas adalah pada kajian ontologi, seorang filosof berusaha ingin mencari apa yang ada di alam raya ini. Begitu juga para filosof juga memikirkan apa yang nyata dalam alam raya ini. Namun apabila hal ini dilakukan oleh orang awam, maka hasilnya akan membuang waktu saja dan tidak bermanfaat.
 KESIMPULAN
Ontologi adalah ilmu tentang yang ada dan realitas. Meninjau persoalan secara ontologis adalah mengadakan penyelidikan terhadap sifat dan realitas dengan refleksi rasional serta analisis dan sintesis logis.
Cakupan kajian ontologi meliputi realitas yang ada dan yang nyata maupun esensi dan eksistensi. Hal ini karena realitas merupakan bagian yang ada.
Kurikulum merupakan inti dari pendidikan. Dalam muatan kurikulum sangat menekankan pentingnya pandangan filsafat pendidikan yang menyeluruh. Jangkauan maupun isi kurikulum diambilkan dari hal yang telah diketahui manusia dari nilai – nilai yang diperoleh dari alam semesta.
  PENUTUP
Demikian makalah ontologi ini kami buat, semoga isi dalam kandungan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Apabila ada kekurangan dalam makalah ontologi ini, itu merupakan suatu kekhilafan dari kami.



DAFTAR PUSTAKA

http://van88.wordpress.com/filsafat-dan-tujuan-pendidikan/
Idi, H. Jalaluddin dan Abdullah. 2007. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Ar Ruzz Media
Khobir, Abdul. 2007. Filsafat Pendidikan Islam. Pekalongan: STAIN Pekalongan Press
Syam, Mohammad Nor. 1988. Filsafat Kependidikan dan Dasar Filsfat Kependidikan Pancasila. Surabaya: Usaha Nasional


[1] Abdul Khobir, Filsafat Pendidikan Islam, (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2007), hal. 17-18.
[2] H. Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2007), hal.83.
[3] http://van88.wordpress.com/filsafat-dan-tujuan-pendidikan/
[4] Abdul Khobir, Filsafat Pendidikan Islam, (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2007), hal. 21-23.
[5] Mohammad Nor Syam, Filsafat Kependidikan dan Dasar Filsfat Kependidikan Pancasila, (Surabaya: Usaha Nasional, 1988), hal. 32.

0 comments:

Post a Comment