Blogroll

December 24, 2012

Merancang Penilaian Kognitif


PENDAHULUAN

Pada umumnya hasil belajar dapat kelompokkan menjadi tiga aspek yaitu ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif. Secara eksplisit ketiga aspek tersebut tidak dipisahkan satu sama lain. Adapun jenis mata ajarannya selalu mengandung tiga aspek tersebut, namun memiliki penekanan yang berbeda. Untuk aspek kognitif lebih menekankan pada teori aspek psikomotorik menekankan pada praktik dan kedua aspek tersebut selalu mengandung aspek afektif.
Aspek kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, aspek kognitif terebut akan dibahas secara lebih luas dalam pembahasan. 

PEMBAHASAN
MERANCANG PENILAIAN KOGNITIF

1.    Mengidentifikasi Tipe Hasil Belajar Aspek Kognitif
Bloom membagi tingkat kemampuan / tipe hasil belajar yang termasuk aspek kognitif menjadi enam, yaitu pengetahuan, hafalan, pemahaman atau komprehensi, penerapan aplikasi, analisis, sistesis, dan evaluasi.[1]
Sedangkan dalam bukunya Mimin Haryanti menjelaskan tipe hasil belajar kognitif terdiri dari enam tingkatan dengan aspek beljar yang berbeda-beda, keenam tingkat tersebut yaitu
a.    Tingkat pengetahuan (knoelwdge)
b.    Tingkat pemahaman (comprehension)
c.    Tingkat penerapan (application)
d.   Tingkat analisis (analysis)
e.    Tingkat sintesis (synthesis)
f.     Tingkat evaluasi (evaluation).[2]
Dari kedua sumber di atas masing-masing menyatakan bahwa tipe hasil belajar aspek kognitif dibedakan menjadi 6.

2.    Membedakan Masing-masing Tahap Tipe Hasil belajar Kognitif
Sumber pertama penulis kutip dari bukunya DR. Daryanto bahwa perbedaan masing-masing tahap tipe hasil belajar kognitif yaitu :
a.    Pengetahuan
Pengetahuan adalah aspek yang paling mendasar dalam taksonomi Bloom, seringkali disebut juga aspek ingatan (recall). Dalam jenjang kemampuan ini seseorang dituntut untuk dapat mengenali / mengetahui adanya konsep, fakta/ istilah-istilah dan tersebut tanpa harus mengerti atau dapat menggunakannya.
b.    Pemahaman
Kemampuan ini umumnya mendapat penekanan dalam proses belajar mengajar, siswa dituntut memahami atau mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat memanfaatkan isinya tanpa keharusan menghubungkannya dengan hal-hal lain.
c.    Penerapan
Dalam jenjang kemampuan ini dituntut kesanggupan ide-ide umum, tat cara ataupun metode-metode, prinsip serta teori-teori dalam situasi baru dan konkrit.
d.   Analisis
Dalam jenjang kemampuan ini seseorang dituntut untuk dapat menguraikan suatu situasi atau keadaan tertentu ke dalam unsur-unsur / komponen pembentuknya.
e.    Sintesis
Pada jenjang ini seseorang dituntut untuk dpat menghasilkan sesuatu yang baru dengan jalan menggabungkan berbagai faktor yang ada.
f.     Penilaian
Dalam jenjang kemampuan ini seseorang dituntut mengevaluasi situasi, keadaan, pernyataan/konsep berdasarkan suatu kriteria tertentu.[3]
Untuk sumber selanjutnya penulis kutip dari buku pengantar evaluasi pendidikan, perbedaan antara masing-masing tipe hasil belajar kognitif yaitu:
a.         Pengetahuan adalah kemampuan untuk mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus-rumus dan sebagainya tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakannya.
b.        Pemahaman adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat
c.         Penerapan adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan / menggunakan ide-ide umum, tata cara atau metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya dalam situasi baru dan konkrit.
d.        Analisis adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil danmampu memahami hubungan diantara bagian-bagian / faktor-faktor yang satu dengan faktor yang lain.
e.         Sintesis adalah kemampuan berpikir yang merupakan kebalikan dari proses berpikir analisis
f.              Evaluasi adalah merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif menurut taksonomi Bloom.[4]
Dari dua sumber yang telah penulis kutip, masing-masing hampir sama dalam membedakan tahap tipe hasil belajar kognitif. Dan dapat penulis simpulkan perbedaan masing-masing tahap tipe hasil belajar kognitif adalah sebagai berikut:
a.    Pengetahuan adalah kemampuan untuk menghafal materi atau untuk menyebutkan kembali (recall)
b.    Pemahaman adalah memahami arti atau konsep situasi serta fakta yang diketahuinya
c.    Aplikasi adalah seseorang dituntut kemampuannya untuk menganalisis atau menguraikan suatu situasi tertentu ke dalam komponen-komponen pembentuknya
d.   Sintesis adalah seseorang dituntut untuk dapat menemukan hubungan kausal / urutan tertentu
e.    Evaluasi adalah mengharapkan seseorang mampu membuat penilaian dan keputusan tentang nilai suatu gagasan, metode atau produk.

3.    Macam-Macam Bentuk Soal Ranah Kognitif
a.    Pertanyaan Lisan
Pertanyaan lisan digunakan untuk mengetahui pencapaian peserta didik dari kompetensi dasar tertentu yang dapat mengungkapkan aspek ingatan, pemahaman dan penerapan.[5]
b.   Tes Objektif
Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif, hal ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelamahan dari tes bentuk esai. Dalam penggunaan tes objektif ini jumlah soal yang diajukan jauh lebih banyak daripada tes esai. Kadang-kadang untuk tes yang berlangsung selama 60 menit dapat diberikan 30-40 soal.[6]
c.    Soal Uraian (subjektif)
Soal uraian adalah soal yang menuntut peserta didik menggunakan respons atau menguraikan langkah untuk memperoleh jawaban atas soal.[7]
Ada beberapa kelebihan dan kelemahan tes uraian, antara lain:
Kelebihan:
ü  Peserta didik dapat mengorganisasikan jawaban dengan fikiran sendiri
ü  Dapat menghindarkan sifat terkaan dalam menjawab soal
ü  Melatih peserta didik untuk memilih fakta yang relevan dengan persoalan
ü  Jawaban yang diberikan diungkapkan dalam kata-kata dan kalimat yang disusun sendiri
Kelemahannya:
ü  Soal benuk uraian ini tepat untuk mengukur kemampuan analisis, sintetik dan evaluatif
ü  Bahan yang diujikan relative sedikit dan tingkat kebenarannya menjadi bertingkat-tingkat.
ü  Pemberian skor jawaban kadang-kadang tidak ajeg.
ü  Soal jenis ini apabila digunakan terusa-menerus dapat berakibat peserta didik belajar dengan cara untung-untungan.[8]

d.   Soal terbuka
Soal terbuka adalah soal yang mempunyai lebih dari satu cara untuk memperoleh jawaban yang benar dan menuntut peserta didik untuk menemukan jawaban itu beserta syarat khususnya. Soal terbuka memerlukan penskoran holistic (menyeluruh) yang didasarkan pada respons peserta didik secara keseluruhan, skor terhadap respon peserta didik bervariasi dari rendah sampai tinggi tergantung pula tingkat respon peserta didik.[9]

KESIMPULAN

Aspek kognitif adalah subtaksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi. Tipe hasil belajar kognitif terdiri dari enam tingkatan yaitu pengetahuan, pemahaman penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.
Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berpikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat sampai pada kemampuan memecahkan maslaah yang menuntut siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan maslah tersebut.



DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Drs. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan Jakarta : Bumi Aksara. Cet. 3.

Daryanto. 2007. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Haryati, Mimin. 2008. Model dan Teknik Penilaian pada Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Gaung Persada Press.

Purwanto, M. Ngalim. 1994. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Sudiyono, Anas. 1996. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Suwarno, Wiji. 2006. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: AR-RUZZ Media. cet. Kesatu.

Thoha, M. Chabib. 1994. Teknik Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo. cet. Kedua.




[1] M. Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 1994), h. 43.
[2] Mimin Haryati, Model dan Teknik Penilaian pada Tingkat Satuan Pendidikan (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008), h. 24.
[3] Daryanto, Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), h. 103-113.
[4] Anas Sudiyono, Pengantar Evaluasi Pendidikan (jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), h. 50-52.
   [5] Wiji Suwarno, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: AR-RUZZ Media, 2006) cet. Kesatu. h. 109.
   [6] Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009), cet. Ke-9, h. 164.
   [7] Wiji Suwarno, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: AR-RUZZ Media, 2006) cet. Kesatu. h. 110.
[8] M.Chabib Thoha, Teknik Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 1994) cet. Kedua, h. 56.
[9]Wiji Suwarno, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: AR-RUZZ Media, 2006) cet. Kesatu. h. 110.

0 comments:

Post a Comment