Blogroll

October 13, 2012

URGENSI BIMBINGAN KONSELING DALAM PENDIDIKAN


A.    Pendahuluan
Bimbingan dan konseling merupakan salah satu kompenen dari pendidikan kita, mengingat bahwa bimbingan dan konseling adalah merupakan suatu kegiatan bantuan dan tuntunan yang diberikan kepada individu pada umumnya dan siswa pada khususnya disekolah dalam rangka meningkatkan mutunya. Pelayanan bimbingan merupakan bagian integral dari program pendidikan itu dan karena sebagian besar dari tumpukan masalah yang yang dihadapi oleh peserta didik justru bersumber dari keaneka ragaman tuntutan belajar disekolah. Maka, para konselor sekolah harus mengenal bidang pendidikan sekolah secara konret.
Dari latar belakang masalah diatas, dapat diketahui urgensi bimbingan dan konseling dalam pendidikan yang akan dipaparkan dalam sub bahasan yaitu fungsi pelayanan bimbingan dalam keseluruhan pendidikan sekolah, tujuan dari bimbingan dalam sekolah, faktor yang menjadi latar belakang bimbingan dan konseling dalam pendidikan dan peran serta kedudukan bimbingan konseling.
B.     Pembahasan
Perlu kita pahami terlebih dahulu, apakah perbedaan antara bimbingan dan pendidikan? Bukankah pendidikan itu sebenarnya merupakan pendidikan yang telah dilaksanakan disekolah-sekolah sejak dahulu.
Bimbingan itu sebenarnya menyangkut semua usaha pendidikan yang dilakukan oleh guru baik didalam maupun diluar sekolah.[1]
Namun demikian, walaupun bimbingan itu menyangkut tiap-tiap aspek dari kegiatan sekolah, hendaknya perlu diperhatikan bahwa pendidikan dan bimbingan berbeda dalam tujuan dan prosesnya. Pendidikan itu lebih menyangkut pada masalah perorangan (Individu), sedangkan bimbingan banyak menyangkut dengan faktor-faktor di luar individu.
Jadi bimbingan itu dapat dikatakan sebagai suatu bentuk pendidikan. Dalam arti khusus, bimbingan menyangkut semua teknik konseling dan semua macam informasi yang dapat menolong individu untuk menolong dirinya sendiri.

1.    Fungsi bimbingan dan konseling
a.       Pencegahan (preventif)
Layanan bimbingan dapat berfungsi pencegahan, artinya merupakan usaha pencegahan terhadap timbulnya masalah. Layanan yang diberikan berupa bantuan bagi para siswa agar terhindar dari berbagai masalah yang dapat menghambat perkembangannya.
Kegiatannya dapat berupa program orientasi, bimbingan karir, inventaris data.
b.      Pemahaman
Maksudnya yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu pihak-pihak tertentu sesuai dengan keperluan pengembangan siswa dan agar siswa dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.[2]
Untuk mencapai perkembangan optimal siswa sesuai dengan tujuan institusional lembaga pendidikan pada dasarnya membina tiga usaha pokok, yaitu:[3]
Ø Pengelolaan administrasi sekolah
Ø Pengembangan pemahaman dan pengetahuan, nilai dan sikap, serta keterampilan melalui program intrakulikuler maupun ekstrakulikuler
Ø Pelayanan khusus kepada siswa dalam berbagai bidang yang membulatkan pendidikan siswa/ menunjang kesejahteraan siswa seperti membina Osis, Pelayanan kesehatan, kerohanian, pengadaan warung sekolah, perpustakaan sekolah.
Dalam fungsi pemahaman disini mencakup:
Ø Pemahaman tentang diri siswa
Ø Pemahaman tentang lingkungan siswa
Ø Pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas.
c.       Perbaikan (penyembuhan)
Fungsi bimbingan yang kuratif yaitu yang berkaitan erat dengan fungsi bimbingan dan konseling yang akan mengahasilkan terpecahkannya atau teratasinya berbagai permasalahan siswa baik aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang digunakan adalah konseling dan remidial teaching.
d.      Fungsi pemeliharaan dan pengembangan
Yang berarti layanan bimbingan dan konseling yang diberikan dapat membantu siswa dalam memelihara dan mengembangkan pribadinya secara mantap, terarah dan berkelanjutan. Yaitu konselor senantiasa berupaya menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, memfasilitasi perkembangan siswa. Dengan demikian, siswa dapat memelihara dan mengembangkan berbagai potensi dan kondisi yang positif dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan.
e.       Fungsi penyaluran (distributif)[4]
Yaitu fungsi bimbingan memberi bantuan kepada siswa dalam memilih kemungkinan kesempatan yang ada dalam lingkungan sekolah. Misalnya kegiatan ekstrakurikuler jurusan, program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya.
f.       Fungsi adaptasi (adative)
Yaitu fungsi bimbingan sebagai pemberi bantuan para pelaksana pendidikan khususnya konselor guru atau dosen untuk mengadaptasikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, bakat, kebutuhan serta kemampuan siswa dan memperhatikan dinamika kelompok.
g.      Fungsi penyesuaian (adjuditive)
Fungsi bimbingan sebagai pemberi bantuan kepada siswa agar dapat menyesuaikan diri secara dinamis dan konstruktif terhadap program pendidikan, peraturan sekolah atau norma agama.
Fungsi-fungsi tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan berbagai jenis layanan bimbingan dan pendukung bimbingan dan konseling untuk mencapai hasil sebagaimana yang terkandung dalam masing-masing fungsi.
Setiap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling harus dilaksanakan secara langsung mengacu pada salah satu atau beberapa fungsi tersebut, agar hasil yang hendak dicapai secara jelas dapat diidentifikasikan dan dievakuasi.[5]
2.    Tujuan bimbingan dan konseling
a.       Tujuan umum
Tujuan umumnya adalah sesuai dengan tujuan pendidikan sebagaimana dalam UU Sistem Pendidikan Nasional tahun 1989 (UU No. 2/1989) yaitu terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, mereka harus mendapatkan kesempatan:[6]
-            Mengenal dan memahami potensi, kekuatan dan tugas perkembangannya
-            Mengenal dan memahami potensi/ peluang yang ada dilingkungannya
-            Mengenal dan menentukan tujuan hidupnya
-            Memahami dan mengatasi permasalahan pribadi
-            Menggunakan kemampuan untuk kepentingan pribadi, lembaga dan masyarakat
-            Menyesuaikan diri dengan lingkungan
-            Mengembangkan segala potensi dan kekuatannya secara tepat dan teratur secara optimal.
b.      Tujuan khusus
Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu peserta didik agar dapat mencapai tujuan perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial, perkembangan belajar (akademik), dan perkembangan karir.
1.      Tujuan bimbingan dan konseling yang menyangkut aspek pribadi-sosial siswa antara lain:
-       Memiliki kesadaran diri, yaitu menggambarkan penampilan dan mengenal kekhususan yang ada pada dirinya.
-       Dapat mengembangkan sikap positif, seperti menggambarkan orang-orang yang mereka senangi
-       Membuat pilihan secara sehat
-       Mempu menghargai orang lain
-       Memiliki rasa tanggungjawab
-       Mengembangkan keterampilan hubungan antar pribadi
-       Dapat menyelesaikan konflik
-       Dapat membuat keputusan secara efektif.
2.      Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek perkembangan belajar (akademik) adalah:
-       Dapat melaksanakan keterampilan atau teknik belajar secara efektif.
-       Dapat menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan
-       Mampu belajar secara efektif
-       Memiliki keterampilan, kemampuan dan minat.
3.      Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek perkembangan karir, antara lain:
-       Mampu membentuk identitas karir, dengan mengenali ciri-ciri pekerjaan didalam lingkungan kerja
-       Mampu merencanakan masa depan
-       Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir
-       Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat.
3.    Faktor yang melatarbelakangi bimbingan dan penyuluhan dibutukan dalam lapangan pendidikan.
a.       Faktor perkembangan pendidikan
Ø Demokrasi pendidikan
Ø Perubahan sistem
Ø Perluasan peraturan pendidikan.
b.      Faktor sosial kultural
Faktor ini muncul sebagai akibat dari perubahan sosial dan budaya yang menimbulkan kesenjangan antara satu golongan dengan golongan lain.
c.       Faktor psikologi
Dari segi psikologis anak adalah pribadi yang sedang berkembang yang menuju kearah kedewasaan, perubahan tersebut menyebabkan berada dalam keadaan yang sulit. Untuk itu, mereka perlu mempersiapkan diri dari segala intelektual emosional.
4.    Peran bimbingan dan penyuluhan dalam pendidikan
Peranan bimbingan dan penyuluhan disekolah ialah mempelancar usaha-usaha sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan. Usaha untuk mencapai tujuan ini sering mengalami hambatan, dan ini terlihat pada anak-anak didik. Mereka tidak bisa mengikuti program pendidikan disekolah karena mereka mengalami masalah, kesulitan ataupun ketidakpastian. Disinilah letak peranan bimbingan dan penyuluhan, yaitu untuk memberikan bantuan untuk mengatasi masalah tersebut sehingga anak-anak dapat belajar lebih berhasil. Dengan begitu, pencapaian tujuan pendidikan lebih dapat diperlancar.
5.    Kedudukan bimbingan dan penyuluhan dalam pendidikan
Beberapa kriteria yang menjadi syarat bahwa pendidikan dapat dikata bermutu adalah pendidikan yang mampu mengintregasikan tiga bidang kegiatan utama secara efektif, yaitu: bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional dan kurikulum, dan bidang pembinaan siswa (bimbingan dan konseling).[7]
a.       Bidang administratif dan kepemimpinan
Bidang ini merupakan kegiatan yang berkaitan dengan masalah administrasi dan kepemimpinan, yaitu masalah yang berhubungan dengan cara melakukan kegiatan secara efesien.
b.      Bidang pengajaran dan kurikuler
Bidang ini bertanggung jawab dalam kegiatan pengajaran dan bertujuan untuk memberikan bekal, pengetahuan, keterampilan, dan sikap kepada pesertadidik.
Pada umumnya bidang ini merupakan pusat kegiatan pendidikan dan merupakan tanggung jawab utama staff pengajar.
c.       Bidang pembinaan siswa (bimbingan dan konseling).
Bidang ini terkait dengan program pemberian layanan bantuan kepada peserta didik dalam upaya mencapai perkembangannya yang optimal melalui interaksi yang sehat dengan lingkungannya.
Menurut Dr. Thari Musnamar, bimbingan dan penyuluhan disekolah dalam pelaksanaannya mempunyai beberapa pola atau kemungkinannya operasionalnya:
1.      Bimbingan identik dengan pendidikan.
2.      Bimbingan sebagai pelengkap pendidikan.
3.      Bimbingan dan penyuluhan sebagai pelengkap kurikuler.
4.      Bimbingan dan penyuluhan sebagai bagian dari layanan urusan kesiswaan.
5.      Bimbingan dan penyuluhan sebagai sub sistem pendidikan.
C.    Kesimpulan
Dari urian diatas dapat kami simpulkan bahwa dalam keseluruhan proses pendidikan, program bimbingan dan penyuluhan merupakan suatu keharusan yang tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan pada umumnya. Dengan melalui program pelayanan bimbingan dan penyuluhan yang baik, maka setiap peserta didik diharapkan mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan setiap potensi dan kemampuan yang dimilikinya seoptimal mungkin.
Selain itu, bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu individu (siswa) agar memperoleh pencerahan diri (intelektual, emosional, sosial dan moral spiritual) sehingga mampu menyesuaikan diri secara dinamis dan konstruktif serta mampu mencapai kehidupannya yang bermakna (produktif dan konstributif), baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain atau masyarakat.


[1] Umum khairul, Aminudin A. Achyar, editior: Djaliel, Manan Abd, Bimbingan dan penyuluhan Untuk Fakultas Tarbiyah Komponen MKDK, Bandung: Pustaka Setia, 1998, hal. 21
[2] Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Rineka Cipta, 2002, hal. 26
[3] Samsul Yusuf dan A. Nurihsan, Landasan Bimbingan dan Konseling, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005, hal. 16
[4] W.S. Winkle, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, Jakarta: PT. Grafindo, 1997, hal. 97

[5] Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Rineka Cipta, 2002, hal. 28
[6] Op.Cit, hal. 13
[7] Samsul Yusuf dan A. Nurihsan, Landasan Bimbingan dan Konseling, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005, hal. 4

0 comments:

Post a Comment