Blogroll

December 24, 2012

PENILAIAN DIAGNOSTIK BELAJAR


PENDAHULUAN

Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar, kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi.
Pemikiran antara lain kenyataan yang sering kita jumpai pada setiap anak didik dalam kehidupan sehari-harinya dalam kaitannya dengan aktivitas belajar.
Setiap individu anak memang tidak ada yang sama. Perbedaan individual ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan anak didik. Dalam keadaan ini dimana anak didik/siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan kesulitan belajar.
Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor intelegensi yang rendah (kelainan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non intelegensi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar.
Oleh karena itu, dalam rangka memberikan evaluasi yang tepat kepada anak didik, maka pendidik perlu memahami masalah-masalah yang berhubungan dengan kesulitan belajar. Masalah kesulitan belajar yang sering dialami para anak didik di sekolah, merupakan masalah penting yang perlu mendapat perhatian yang serius di kalangan para pendidik.

PEMBAHASAN

Meskipun informasi tetang kelemahan dan kesulitan belajar siswa telah diperoleh melalui tes formatif dan pekerjaan rumah (PR), namun inormasi itu belum cukup terinci memperlihatkan sebab-sebab mendasar timbulnya kesulitan belajar tersebut. Fungsi evaluasi formatif terbatas pada menilai pencapaian tujuan-tujuan instruksional khusus yang telah dirumuskan guru dalam Satpel (Satuan pembelajaran). Dalam melakukan fungsinya itu tes atau evaluasi formatif tidak menjaring kesulitan-kesulitan belajar yang sifatnya mendasar.
Kelemahan evaluasi formatif dalam menemukan kesulitan belajar itu dapat disebabkan karena penggunaanya yang tidak tepat atau karena katakteristik tes formatif itu sendiri yang tidak memungkinkan menemukan sebab-sebab yang mendasari kesulitan belajar siswa. Untuk menelusuri sebab-sebab tersebut diperlukan alat pantau yang lebih cermat, yaitu tes diagnostik hasil belajar.[1]
Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks, sebagai tindakan maka belajar hanya dialami oleh anak didik sendiri. Anak didik adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses beajar.[2]
Belajar menurut Skiner adalah suatu perilaku karena pada saat anak belajar maka responsnya menjadi lebih baik. Begitu pun sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responsnya menurun, sehingga dalam belajar ditemukan adanya hal kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon pembelajaran. Merespon si pelajar dan konsekuensi yang bersifat menguatkan respons tersebut. Pemerkuat terjadi ada stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut. Sebagai ilustrasi, perilaku respons si pembelajar yang baik diberi hadiah, sebaliknya perilaku respons yang tidak baik diberi teguran dan hukuman[3]
Sebagaimana yang telah diketahui bahwa anak didik adalah individu yang unik yang mempunyai kesiapan dan kemampuan pisik, psikis serta intelektual yang berbeda, satu sama lainnya. Demikian pula halnya dalam proses belajar, setiap anak didik mempunyai karakteristik yang berbeda –beda.[4]
Semua faktor yang mempengaruhi hasil belajar hendaknya ditelusuri untuk mengetahui faktor manakah yang memainkan peranan pada hasil belajar siswa. Faktor yang paling utama adalah guru dan siswa sendiri.
Dilihat dari faktor guru, keberhasilan belajar siswa dipengaruhi oleh :
  1. Kesiapan guru dalam mengajar;
  2. Penguasaan materi pengajaran oleh guru;
  3. Kemampuan bawaan guru; dan
  4. Kemampuan guru berkomunikasi.
Dilihat dari faktor siswa, keberhasilan belajar siswa dipengaruhi oleh:
  1. Kesiapan belajar siswa;
  2. Kebiasaan belajar siswa
  3. Sikap belajar siswa;
  4. Ada tidaknya kesulitan belajar yang dialami siswa pada umumnya; dan
  5. Ada tidaknya kesulitan siswa mempelajari suatu bidang studi tertentu.
Kesulitan belajar yang diakibatkan baik oleh faktor-faktor tersebut diatas maupun oleh faktor-faktor lainya diketahui sedini mungkin agar dapar segera ditangani. Untuk itu diperlukan tes diagnostik belajar.[5]
Sebagaimana yang telah dikemukakan uraian terdahulu bahwa di sekolah para pendidik/guru sering menghadapi peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar. Kesulitan belajar yang dialami peserta didik tersebut termanifestasi dalam berbagai bentuk gejala tingkah laku. Gejala kesulitan belajar yang teramanifestasi dalam tingkah laku peserta didik itu merupakan akibat dari beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Untuk dapat memberikan bimbingan yang efektif terhadap peserta didik yang mengalami kesulitan belajar itu sudah barang tentu setiap pendidik/guru memahami terlebih dahulu faktor yang melatarbelakangi kesulitan belajar tersebut.
Menurut para ahli pendidikan, hasil belajar yang dicapai oleh para peserta ddik dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor yang terdapat di dalam diri peserta didik itu sendiri yang disebut dengan faktor internal. Dan faktor yang terdapat di luar diri peserta didik yang disebut dengan eksternal.
Faktor internal atau faktor yang terdapat di dalam diri peserta didik itu sendiri antara lain adalah sebagai berikut:
  1. Kurangnya kemampuan dasar yang dimiliki oleh peserta didik. Kemampuan dasar (intelegensi) merupakan wadah bagi kemungkinan tercapainya hasil belajar yang diharapkan. Jika kemampuan dasar rendah, maka hasil belajar yang dicapai akan rendah pula, sehingga menimbulkan kesulitan dalam. belajar.
  2. Kurangnya bakat khusus untuk suatu situasi belajar tertentu. Sebagaimana halnya intelegensi bakat juga merupakan wadah untuk mencapai hasil belajar tertentu. Peserta didik yang kurang atau tidak berbakat untuk suatu kegiatan belajar tertentu akan mengalami kesulitan belajar.
  3. Kurangnya motivasi atau dorongan untuk belajar, tanpa motivasi yang besar peserta didik akan banyak mengalami kesulitan dalam belajar. Persaingan yang sehat baik antar individu maupun antar kelompok dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
  4. Situasi pribadi terutama emosional yang dihadapi peserta didik pada waktu tertentu dapat menimbulkan kesulitan dalam belajar, misalnya konflik yang dialaminya, kesedihan dan lain sebagainya.
  5. Faktor jasmaniah yang tidak mendukung kegiatan belajar, seperti gangguan pendengaran dan lain sebagainya.
  6. Faktor hereditas (bawaaan) yang tidak mendukung kegiatan belajar, seperti buta warna, kidal, trepor, cacat tubuh dan lain sebagainya.
Adapun faktor  yang terdapat di luar diri peserta didik (faktor eksteren) yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa adalah :
  1. Faktor lingkungan sekolah yang kurang memadai bagi situasi belajar peserta didik, seperti : cara mengajar, sikap guru, kurikulum atau materi yang akan dipelajari, perlengkapan belajar yang tidak memadai, teknik evaluasi yang kurang tepat, ruang belajar yang nyaman, situasi sosial yang kurang tepat, ruang belajar yang nyaman, situasi sosial sekolah yang kurang mendukung dan sebagainya.
  2. Situasi dalam keluarga mendukung situasi belajar peserta didik, seperti rumah tangga yang kacau (broken home).
  3. Situasi lingkungan sosial yang mengganggu kegiatan belajar siswa.[6]
Tes diagnostik dibedakan dari jenis tes lainnya oleh ciri-ciri khusus berikut ini.
  1. Butir soalnya dirancang secara khusus;
  2. Tiap butir pengecoh (distractor) dalam tiap soal berfungsi diagnostik
  3. Hasil tes diagnostik tidak merupakan ukuran kemampuan siswa.
  4. Penekanan tes diagnostik adalah pada proses belajar dan bukan pada hasil belajar (process oriented dan bukan product oriented). Dengan tes diagnostik dikaji bagaimana proses belajar dialami atau dilalui siswa sehingga berhasil atau gagal dalam pelajarannya, atau setidak-tidaknya mengalami kesulitan belajar.
  5. Tujuan utama tes diagnostik belajar adalah membantu guru dalam meningkatkan efisiensi mengajarnya di kelas.
Tes diagnostik belajar dapat berbentuk:
1.      Perangkat tes yang terdiri dari macam-macam variasi bentuk, seperti betul-salah, pilihan ganda dan isian;
2.      Tes pengamatan;
3.      Tes perbuatan.[7]
Penilaian diagnostik adalah penilaian yang bertujuan untuk melihat kelemahan anak didik dan faktor-faktor penyebabnya. Penilaian ini dilaksanakan pada suatu keperluan seperti remidial dalam evaluasi pengajaran.[8]
Sasaran utama tes diagnostik belajar untuk menemukan kekeliruan-keleiruan atau kesalahan konsep dan kesalahan proses yang terjadi dalam diri siswa tatkala mempelajari suatu topik belajar tertentu. Mislanya pada berhitung, perhatian lebih ditujukan pada kemampuan dalam melakukan proses perhitungan dan memahami konsep dasar tentang penjumlahan atau pengurangan daripada hasil akhir yang diperoleh siswa. [9]
Tes diagnostik belajar ini bersifat rasional, alasan yang melandasi pendapat tersebut adalah :
1.    Proses berpikir merupakan faktor penentu keberhasilan belajar
2.    Hasil tes yang baik tidak selalu yang menggambarkan prestasi seseorang
3.    Tes diagnosrik dimaksudkan untuk menemukan kesulitan belajar siswa sedini mungkin
4.    Berbeda dengan tes lainnya yang menjaring informasi yang menjawab pertanyaan apa, tes diagnostik menjaring informasi yang menjawab pertanyaan mengapa.
Langkah-langkah pengembangan tes diagnostik belajar:
1.    Menyajikan tes formatif dalam bidang studi atau mata pelajaran tertentu;
2.    Menganalisis hasil tes formatif untuk menetapkan bagian pokok bahasan atau sub pokok bahasan manakah yang belum dikuasai siswa;
3.    Kisi-kisi yang disusun untuk tes diagnostik tidak perlu meliputi seluruh materi yang diajarkan, melainkan hanya hal-hal yang dianggap kritis bagi sebagian siswa.
4.    Soal tertulis berdasarkan rincian spesifikasi yang ditetapkan dalam kisi-kisi
5.    Soal-soal yang sudah ditulis itu dirakit menjadi perangkat tes;
6.    Soal-soal yang sudah ditulis itu dirakit menjadi perangkat tes;
7.    Untuk menyempurnakan tes diagnostik yang disusun itu diadakan uji coba dalam lingkungan terbatas;
8.    Hasil uji coba yang telah dianalisis itu diadakanlah perbaikan;
9.    Menyusun buku pedoman (manual) untuk pelaksanaannya.
 Dua unsur yang mempunyai peran penting hasil tes diagnostik belajar yaitu guru dan anak didik.
Guru memerlukan informasi dari hasil tes diagnostik sebagai masukan dan bahan pertimbangan untuk memperbaiki cara mengajarnya. Apabila diketahui bahwa ada siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari suatu topik tertentu, terutama topik-topik yang esensial, maka guru perlu menyajikan tes diagnostik, menganalisis hasilnya, mengintrospeksi cara mengajar, mencari sebab-sebabnya dan mengupayakan perbaikan atau penyesuaian cara mengajar dengan jenis materi yang diajarkannya.
Penggunaan metode mengajar yang tepat untuk materi belajar mengajar tertentu merupakan keharusan bagi guru agar mencapai hasil mengajar yang optimal. Tidak setiap metode mengajar berlaku tepat dan efektif untuk semua materi bidang studi.
Jelasnya bahwa diagnostik sangat bermanfaat bagi guru dalam menelusuri tingkat keberhasilan mengajarnya, dan untuk mendapatkan informasi tentang kelemahan dalam penyampaian pengajarannya itu agar dapat diupayakan perbaikannya.
Informasi tentang kelemahan dan kesulitan belajar siswa diperlukan agar siswa dapat mengetahui bagian atau segi apa yang masih belum dikuasainya dan mengapa bagian atau segi itu belum dikuasainya. Dengan demikian, siswa dapat mengupayakan alat bantu atau cara untuk memperbaiki kelemahannya atau mencari jalan pemecahan kesulitan belajarnya. Siswa dapat mengupayakan bimbingan yang lebih intensif untuk dirinya sendiri menyangkut materi pengajaran yang merupakan prasyarat untuk mempelajari materi selanjutnya dari bidang studi yang sama, atau materi dari bidang studi lainnya yang mempunyai kaitan erat dengan materi tersebut. Upaya-upaya dimaksud dapat berupa pelajaran tambahan, bimbingan individual, atau tugas-tugas PR (Pekerjaan Rumah).[10]

BAB III
ANALISIS


Sebagaimaa halnya semua macam tes, tes diagnostik pun perlu selalu dipantau penggunaannya demi peningkatan efisiensi pemanfaatannya. Pemantauan dimaksudkan untuk meneliti kelemahan tes itu sendiri, kemudahan penggunaanya dan efektivitas yang diperlihatkannya.
Terdapat kemungkinan tes itu belum cukup baik konstruksinya sehingga tidak memenuhi persyaratan sebagai suatu tes diagnostik yang baik. Telah disebutkan bahwa perumusan soal tes diagnostik tidaklah berbeda dari cara perumusan adalah tes hasil belajar lainnya sehingga perlu dikaji lagi butir-butir soal tes diagnostik untuk meyakini kesesuaiannya dengan semua kaidah penulisan soal yang baik. Apabila ternyata ada butir soal yang kurang baik, entah dari segi materi, konstruksi, ataupun pembahasannya, maka perlu segera diupayakan perbaikannya atau diganti.
Terdapat pula kemungkinan bahwa tes itu sudah baik tetapi sukar untuk digunakan oleh guru yang belum terlatih untuk itu. Dengan demikian, perlu dipikirkan dua hal: (1) apakah tes sudah cukup mudah penggunaannya, dan (2) apakah guru sudah cukup terlatih mengunakan tes itu.
Karena tes diagnostik dapat menggunakan berbagai macam bentuk, padahal tidak semua bentuk sama mudahnya untuk dipakai, maka terdapat kemungkinan tes diagnostik menjadi sulit digunakan karena penerapan bentuk-bentuk tertentu. Tes dengan bentuk uraian bebas, misalnya uraian non-objektif, sehingga guru akan sukar memanfaatkan hasil yang diperoleh dari tes diagnostik yang mengunakan bentuk uraian bebas. Oleh karena itu, perlu dicari bentuk yang dapat digunakan dengan mudah tanpa mengurangi efisiensinya sebagai tes diagnostik.
Meskpun tes diagnostik mengambil bentuk yang memungkinkan penggunaannya dengan mudah, tetapi bila guru tidak cukup terlatih menggunakannya maka tidak pula bermanfaat. Apabila hal ini yang terjadi, maka guru yang hendak menggunakan tes diagnostik itu perlu diberikan latihan agar dapat menyajikan dan menganalisis hasilnya serta mampu menginterpretasikan hasilnya demi tujuan diagnostik.
Pemantauan terhadap pemanfaatan tes diagnostik itu perlu dilakukan secara terencana, terarah, sistematis, dan berkesinambungan. Hasil pemantauan itu dapat dimanfaatkan untuk beberapa tujuan, seperti :
  1. Memperbaiki alat ukur (tes) itu sendiri;
  2. Membantu alat ukur mengupayakan penggunaannya secara tepat; dan
  3. Mengadakan pengembangan alat ukur (tes) itu lebih lanjut.

PENUTUP

Sudah menjadi harapan setiap pendidik, agar peserta didiknya dapat mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya sesuai dengan tujuan yang telah digariskan dalam proses belajar mengajar di sekolah. Namun, kenyataannya yang dihadapi tidak selalu menunjukkan apa yang diharapkan itu dapat terealisir sepenuhnya. Banyak peserta didik yang menunjukkan tidak dapat mencapai hasil belajar sebagaimana yang diharapkan oleh para pendidiknya.  Dalam proses belajar mengajar guru/pendidiknya sering menghadapi masalah adanya peserta didik yang tidak dapat mengikuti pelajaran dengan lancar, ada siswa yang memperoleh prestasi belajar belajar yang rendah, meskipun telah diusahakan untuk belajar dengan sebaik-baiknya, dan lain sebagainya. Dengan kata lain guru/pendidik sering menghadapi dan menemukan peserta didik yang mengalai kesulitan dalam belajar. Kemudian diadakan semacam tes diagnostik belajar dalam evaluasi untuk mencapai hasil belajar yang optimal.



DAFTAR PUSTAKA

Dimyati & Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Hallen A. 2002.  Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Ciputat Press.

Silverius, Suke. 1991. Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik. Jakarta: Grasindo.

Sudjana, Nana. 1995. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.



[1] Suke Silverius, Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik, (Jakarta: Grasindo, 1991), h. 153.
[2] Dimyati & Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), h. 7.
[3] Ibid., h. 9.
[4] Hallen A., Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), h. 123.
[5] Suke Silverius, op.cit., h. 153.
[6] Hallen A. op.cit.,h. 130-132.
[7] Suke Silverius, op.cit., h. 154.
[8] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), h. 5.
[9] Suke Silverius, op.cit., h. 154
[10] Ibid., h. 157-158.

0 comments:

Post a Comment