Blogroll

December 24, 2012

PENYEKORAN DAN PENILAIAN


BAB I
PENDAHULUAN

Evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan. Sesuai dengan pengertian tersebut maka setiap kegiatan evaluasi atau penilaian merupakan suatu proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data. Berdasarkan data tersebut kemudian dicoba membuat suatu keputusan. Sudah barang tentu informasi atau data yang dikumpulkan itu haruslah data yang sesuai dan mendukung tujuan evaluasi yang direncanakan.
Dalam hubungan dengan kegiatan pengajaran, evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai ssiwa.
Dengan kata-kata yang berbeda evaluasi pendidikan ialah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan di dalam kurikulum.
Dalam dunia pendidikan pasti dilakukan suatu evaluasi, salah satunya dengan cara tes dikumpulkan dan kemudian dilakukan penilaian dan pemberian skor. Penilaian yang meliputi pengertian penyekoran dan penilaian, perbedaan menyekor dan menilai serta langkah-langkah melakukan penilaian.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Penyekoran
Pemberian skor (=scoring) merupakan langkah pertama dalam proses pengolahan hasil tes, yaitu proses pengubahan jawaban soal tes menjadi angka-angka dengan kata lain pemberian skor itu merupakan tindakan kuantifikasi terhadap jawaban-jawaban yang diberikan oleh testee dalam suatu tes hasil belajar.
Angka-angka hasil penilaian itu selanjutnya diubah menjadi nilai-nilai (=grade) melalui proses tertentu. Penggunaan simbol untuk menyatakan nilai-nilai hasil tes itu ada yang tertuang dalam bentuk angka dengan rentangan antara 0 – 10, antara 0 – 100, dan ada pula yang menggunakan simbol huruf A, B, C, D dan F (F = fail) = gagal).
Cara pemberian skor terhadap hasil tes belajar pada umumnya disesuaikan dengan bentuk soal-soal yang dikeluarkan dalam tes tersebut, apakah tes uraian (essay) ataukah tes objektif (objective test).[1]
Untuk soal-soal objektif biasanya setiap jawaban benar diberi skor 1 (satu) dan setiap jawaban yang salah diberi skor 0 (nol); total skor diperoleh dengan menjumlahkan skor yang diperoleh dari semua soal. Untuk soal-soal essay dalam penskorannya biasanya digunakan cara memberi bobot (weithing) kepada setiap soal menurut tingkat kesukaranya atau banyak –sedikitnya unsur yang yang harus terdapat dalam jawaban yang dianggap paling baik. Misalnya: untuk soal no. 1 diberi skor maksimal 4, untuk soal no. 3 diberi skor maksimum 6, untuk skor no. 5 skor maksimum 10 dan seterusnya.
Di lembaga–lembaga pendidikan kita, masih banyak pengajaran yang melakukan penskoran soal-soal essay, tanpa pembobotan; setiap soal diberi skor yang sama meskipun sebenarnya tingkat kesukaran soal-soal dalam tes yang disusunnya itu tidak sama.
Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, terutama dalam penilaian soal-soal essay, proses penskoran dan penilaian biasanya tidak dibedakan satu sama lain; pekerjaan siswa atau mahasiswa langsung diberi nilai, jadi bukan diskor terlebih dahulu. Oleh karena itu, hal ini sering kali menimbulkan terjadinya halo effect, yang berarti dalam penilaiannya itu diikutsertakan pula unsur-unsur yang irelevan seperti kerapian dan ketidakrapian tulisan, gaya bahasa, atau panjang-pendeknya jawaban sehingga cenderung menghasilkan penilaian yang kurang andal. Hasil penilaian menjadi kurang objektif. Jika tes yang berbentuk soal-soal essay tersebut dinilai oleh lebih dari satu orang, sering kali terjadi perbedaan-perbedaan diantara penilai, bahkan juga hasil penilaian seorang penilai sering kali berbeda terhadap jawaban-jawaban yang sama dari soal tertentu. Kesalahan seperti ini tidak akan selalu terjadi jika dalam pelaksanaannya diadakan pemisahan antara proses penskoran dan penilaian.
Untuk penskoran soal-soal objektif sering dipergunakan rumus coorection for guessing, atau dapat juga disebut sistem denda. Adapun rumus coorection for guessing yang baisa dipakai adalah sebagai berikut:
Untuk soal-soal multiple choice :
S =  SR -
Untuk soal-soal true-false
S =  SR - SW (karena n – 1 – 1).
Keterangan :
S       : skor yang dicari
SR     : jumlah soal yang dijawab benar
SW    : jumlah soal yang dijawab salah
n        : jumlah option (alternatif jawaban tiap soal)
1               : bilangan tetap [2]
Setelah pengaturan soal-soal selesai kita lakukan, langkah selanjutnya adalah menetapkan besarnya skor yang diberikan untuk setiap item. Artinya kita tetapkan beberapa skor yang akan diberikan untuk setiap jawaban yang diberikan oleh anak-anak. Cara menskor yang banyak dilakukan adalah memberikan skor 1 (satu) untuk setiap jawaban yang betul.[3]

B.     Pengertian Menilai
Sesuai memeriksa hasil tes dan  menghitung jumlah jawaban benar untuk menentukan skornya, maka langkah berikut adalah menetapkan nilai untuk pencapaian belajar ssiwa seperti yang dicerminkan oleh skor itu. Kalimat ini menunjukkan bahwa skor dan nilai mempunyai pengertian yang berbeda.
Skor (score atau mark) adalah angka yang menunjukkan jumlah jawaban yang benar dari sejumlah butir soal yang membentuk tes. Dengan demikian, apabila jumlah soal yang benar ada 25, maka skor untuk siswa tersebut adalah juga 25, terlepas dari berapa jumlah soal yang membentuk tes itu. Jadi, biarpun jumlah soal dalam tes itu 30, 40, 50, 75, atau 100 sekalipun, siswa tersebut tetap mendapat skor 25. Pemberian angka skor itu sebagai angka nilai tersebut tidak tepat. Skor 25 dari 30 butir soal berbeda nilai daripada skor 25 pada tes dengan 50 butir soal, apalagi pada tes dengan 100 butir soal. Pada tes dengan 30 buir soal, skor 25 menempatkan siwa itu pada kelompok yang berhasil mencapai 83% tujuan instruksional yang diukur dengna tes tersebut. Tetapi skor 25 yang diperoleh dari tes dengan 50 butir soal, tingkat pencapaian tujuan instruksional hanya sebenar 50%, dan hanya sebesar 25% pada tes dengan 100 butir soal. Angka-angka persentase itu diperoleh dengan jalan membagi jumlah skor dengan jumlah butir soal dalam seluruh tes dan dikalikan dengan 100%. Angka-angka persentase ini menunjukkan nilai skor tersebut dalam kaitan dengan seluruh tes yang disajikan. Nilai (grade), dengan demikian, adalah angka yang menunjukkan tingkat pencapaian tujuan instruksional yang dicantumkan daam keseluruhan tes. Misalnya, nlai pencapaian tujuan instruksional ditetapkan antara 0  dan 100, maka angka-angka persentase tersebut di atas harus dikalikan dengan nilai maksimal yang ditetapkan itu, yakni 100 sehingga diperoleh 83, 50 atau 25 masing-masing untuk tes dengan jumlah butir soal 30, 50 dan 100. Apabila nilai tertinggi ditetapkan 10, maka angka persentase tersebut perlu dikalikan dengan 10 sehingga diperoleh nilai 8,3 untuk tes dengan 30 butir soal, atau 5 dan 2,5 untuk masing-masing tes dengan 30 butir soal, atau 5 dan 2,5 untuk masing-masing tes dengan jumlah soal 50 dan 100 butir. Semua nilai semacam ini disebut juga skor jabaran (derived scores).[4]

C.    Prinsip Penilaian
Kira-kira dua-tiga dekade yang lalu, atau mungkin bahkan hingga kini, masih banyak orang berpendapat bahwa “Siapa yang menguasai materi dengan sendirinya bisa mengajarkannya, dan (implisit didalamnya) siapa yang bisa mengajar dengan sendirinya dapat pula melakukan penilaian”. Akan tetapi paralel dengan berkembangnya teknologi pendidikan, termasuk didalamnya teknologi pendidikan, termasuk didalamnya teknologi pengukuran dan penilaian prestasi belajar siswa dan mahasiswa, dalil tersebut sudah mulai luntur. Kini banyak orang – khususnya para guru atau pengajar- mulai menyadari bahwa masalah pengukuran dan penilaian prestasi belajar siswa dan mahasiswa bukanlah pekerjaan yang mudah, yang dapat dilakukan secara intuitif atau secara trial and error saja. Untuk dapat melakukan pengukuran dan penilaian secara efektif diperlukan latihan dan penguasaan teori-teori yang relevan dengan tujuan dari proses-belajar-mengajar sebagai bagian yang tidak terlepas dari kegiatan pendidikan sebagai suatu sistem.
Sehubungan dengan itu, dalam uraian berikut ini akan dibicarakan beberapa prinsip penilaian yang perlu diperhatikan sebagai dasar dalam pelaksanaan penilaian, sesudah itu akan dibicarakan pula tentang prosedur pemberian nilai.
Adapun beberapa prinsip penilain itu ialah sebagai berikut:
1.      Penilaian hendaknya didasarkann atas hasil pengukuran yang komprehensif. Hal ini berarti bahwa penilaian didasarkan atas sampel presasi yang cukup banyak, baik macamnya maupun jenisnya. Untuk itu dituntut pelaksanaan penilaian secara sinambung dan penggunaan bermacam-macam teknik pengukuran . Dengan macam dan jumlah ujian yang lebih banyak, prestasi siswa dapat diungkapkan secara lebih mantap meskipun harus pula dicatat bahwa banyaknya macam jumlah ujian harus dibarengi dengan kualitas soal-soalnya, yang sesuai dengan fungsinya sebagai alat ukur.
2.      Harus dibedakan antara peskoran (scoring) dan penilaian (grading). Hal ini telah dibicarakan dalam uraian terdahulu. Penskoran berarti proses pengubahan prestasi menjadi angka-angka, sedangkan dalam penilaian kita memproses angka-angka hasil kualifikasi prestasi itu dalam hubungannya dengan “kedudukan” personal siswa dan mahasiswa yang memperoleh angka-angka tersebut di dalam skala tertentu, misalnya skala tentang baik-buruk, bisa diterima-tidak bisa diterima, dinyatakan lulus-tidak lulus.
Dalam penskoran, perhatian terutama ditujukan kepada kecermatan dan kemantapan (accuracy dan reliability); sedangkan dalam penilaian, perhatian tertutama ditujukan kepada validitas dan kegunaan (validity dan utility).
3.      Dalam proses pemberian nilai hendaknya diperhatikan adanya dua macam orientasi, yaitu penilaian yang norms-referenced dan yang criterion-referenced. Norm-referenced evaluation adalah penilaian yang diorientasikan kepada suatu kelompok tertentu; jadi, hasil evaluasi perseorangan siswa atau mahasiswa dibandingkan dengan prestasi kelompoknya. Prestasi kelompoknya itulah yang dijadikan patokan atau norm dalam menilai siswa atau mahasiswa secara perseorangan. Penilaian norm-referenced selalu bersifat kompetitif intrakelompok. Criterion-referenced evaluation ialah penilaian yang diorientasikan kepada suatu standar absolut, tanpa dihubungkan dengan suatu kelompok tertentu.
4.      Kegiatan pemberian nilai hendaknya merupakan bagian integral dari proses belajar-mengajar. Ini berarti bahwa tujuan penilaian, di samping untuk mengetahui status siswa dan menaksir kemampuan belajar serta penguasaannya terhadap bahan pelajaran, juga digunakan sebagai feedbacak (umpan balik), baik kepada siswa sendiri maupun bagi guru atau pengajar.
5.      Penilaian harus bersifat komparabel. Artinya setelah tahap pengukuran yang menghasilkan angka-angka itu dilaksanakan, prestasi-prestasi yang menduduki skor yang sama harus memperoleh nilai yang sama pula.
6.      Sistem penilaian yang dipergunakan hendaknya jelas bagi siswa dan bagi pengajar sendiri. Sumber ketidakberesan dalam penilaian terutama adalah tidak jelasnya sistem penilaian itu sendiri bagi para guru atau pengajar; apa yang dinilai serta macam skala penilaian yang dipergunakan dan makna masing-masing skala itu. Apapun skala yang dipakai dalam penilaian, apakah skala 0-4 atau A, B, C, D, dan F (TL), hendaknya benar-benar apa isi dan maknanya.[5]

D.    Perbedaan Menyekor dan Menilai
Skor adalah hasil pekerjaan menyekor (sama dengan memberikan angka yang diperoleh dengan jalan menjumlahkan angka-angka bagi setiap butir item yang oleh testee telah dijawab denganbetul, dengan ,memperhitungkan bobot jawaban betulnya.[6]
Adapun yang dimaksud nilai adalah angka (bisa juga huruf), yang merupakan hasil ubahan dari skor yang sudah dijadikan satu dengan skor-skor lainnya, serta disesuaikan pengaturannya dengan standar tertentu. Itulah sebabnya mengapa nilai sering disebut skor standar (standard score).
Nilai pada dasarnya adalah angka/huruf yang melambangkan seberapa jauh/seberapa besar kemampuan yang telah ditujukan oleh testee terhadap materi atau bahan yang teskan, sesuai dengan tujuan instruksional khusus yang telah ditentukan.[7]
Perskoran berarti proses pengubahan prestasi menjadi angka-angka, sedangkan dalam penilaian kita memproses angka-angka hasil kuantifikasi prestasi itu dalam hubungannya dengan “kedudukan” personal siswa dan mahasiswa yang memperoleh angka-angka tersebut di dalam skala tertentu.
Dalam penskoran, perhatian utama ditujukam kepada kecermatan dan kemantapan, sedangkan dalam penilaian, perhatian terutama ditujukan kepada validitas dan kegunaan.[8]

E.     Langkah-langkah Melakukan Penilaian
Untuk dapat melakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa dengan baik, perlu kita kajij beberapa prosedur penilaian dari yang sangat sederhana dan mengandung banyak kelemahan sampai kepada yang lebih rumit dan sophiticated. Dengan pengkajian ini diharapkan kita dapat memahami kelemahan-kelamahan maupun kebaikan yang terkandung di dalam setiap prosedur penilaian.
1.      Prosedur penilaian yang paling sederhana, atau mungkin juga dapat dikatakan paling tua dan banyak dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan kita, ialah prosedur yang tidak membedakan dengan jelas adanya dua fase, yaitu fase pengukuran dan penilaian. Prosedur ini mengandung lebih banyak kelemahan dari pada kebaikan. Dalam pelaksanaannya sering dikacaukan antara penskoran dan penilaian, atau lebih lazim lagi angka atau kor yang sebenarnya merupakan “biji”, langsung dianggap sebagai nilai, yang kemudian dipergunakan sebagai alat untuk menentukan vonnis kepada siswa atau mahasiswa yang memperoleh “biji” tersebut.
2.      Prosedur ini dan berikutnya adalah prosedur yang telah memisahkan fase pengukuran da fase penilaian dengan berbagai variasi, mulai dari yang relatif sederhana sampai dengan yang lebih rumit dan sophisticated.
Yang pertama ialah prosedur penilaian dengan membuat peringkat skor-skor dalam bentuk tabel-tabel distribusi (untuk lebih jelasnya, periksalah tabel-yabel dalam lampiran) dengan membuat rentangan skor teoritis dari O s.d. N (dalam buku lain disebut juga rentangan skor ideal). Jika kemudian skor-skor yang diperoleh siswa (skor aktual) dimasukkan ke dalam rentangan skor teoritis itu, maka rentangan dan distribusi frekuensinya sehingga sekaligus kita dapat melihat apakah tes itu terlalu mudah, terlalu sukar,  atau sedang bagi kelompok siswa yang bersangkutan. Dari pemeriksaan secara visual demikian itulah penilaian dapat menetapkan batas-batas penilaian (baca: skala penilaian) sesuai dengan distribusi kelompok skor yang terlukis di dalam tabel. Dalam hal ini, peran guru atau penilai dituntut tanggung jawab profesionalnya dalam mnentukan batas persyaratan penguasaan minimal dari hasil tes yang telah ditabulasikan itu.
3.      Prosedur penilaian dengan menggunakan persentase (%) banyak digunakan karena dianggap lebih sederhana dan praktis. Penilaian dengan presentase ini umumnya dikaitkan dengan skala penilaian 0-10 atau 0-100, dengan langsung mentransformasikan persentase yang dimaksud menjadi nilai. Misalnya 50% benar sama dengan nilai 5 (dalam skala penilaian 0-10) atau 50 (dalam skala penilaian 0-100); 78% benar sama dengan nilai 8 (dalam skala penilaian 0-10) atau 78 (dalam skala penilaian 0-100).
4.      Prosedur yang menggunakan teknik statistik yang lebih kompleks, yaitu yang dinamakan prosedur perstandardisasian dan penormalisasian. Dikatakan perstandardisasian karena dalam mentranspormasikan skor-skor hasil pengukuran suatu kelompok siswa menggunakan rentangan yang disebut deviasi standar, yaitu penyimpangan rata-rata yang dihitung dari nilai titik tengah kelompok yang disebut mean atau rata-rata hitung (arithmetic mean).[9]
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari pemaparan paper di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan bahwa yang dimaksud penyekoran adalah proses pengubahan jawaban soal tes menjadi angka-angka, atau sebuah tindakan kuantifikasi terhadap jawaban-jawaban yang diberikan oleh testee dalam suatu tes hasil belajar.
Sedangkan penilaian adalah memproses angka-angka hasil kuantifikasi prestasi dalam hubungannya dengan “kedudukan” personal siswa dan mahasiswa yang memperoleh angka-angka tersebut di dalam skala tertentu, misalnya skala tentang baik buruk, bisa diterma-tidak bisa diterima, dinyatakan lulus-tidak lulus.
Adapun prinsip-prinsip penilaian itu adalah sebagai berikut:
1.      Penilaian hendaknya didasarkan atas hasil pengukuran yang komprehensif.
2.      Harus dibedakan antara penskoran (scoring) dan penilaian (grading).
3.      Dalam proses pemberian nilai hendaknya diperhatikan adanya dua macam orientasi, yaitu penilaian yang norms-referenced dan yang criterion-referenced.
4.      Kegiatan penilaian hendaknya merupakan bagian integral dari proses belajar mengajar.
5.      Penilaian harus bersifat komparable.
6.      Sistem penilaian yang dipergunakan hendaknya jelas bagi siswa dan bagi pengajar sendiri.


DAFTAR PUSTAKA

Sudijono, Anas. 1996. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Purwanto, Ngalim.. 2001.Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Nurkancana, Wayan. 1986. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional. 1986.

Silverius, Suke. 1991. Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik. Jakarta: Grasindo.




[1] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), h. 301.
[2] Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), h. 70-71.
[3] Wayan Nurkancana, Evaluasi Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1986), h. 56.
[4] Suke Silverius, Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik, (Jakarta: Grasindo, 1991), h. 107-108.
[5] Ngalim Purwanto, op.cit., h. 73-75
[6] Anas Sudijono, op.cit., h. 39
[7] Ibid, h. 311
[8] Ngalim Purwanto, op.cit., h. 73
[9] Ibid, h. 79-81

0 comments:

Post a Comment